Monitoring SPPG Diperketat

SPPG News Briefing 14 September 2026
Monitoring SPPG Diperketat

Hari ini ada perkembangan penting pada sisi pengawasan MBG, respons insiden, dan rencana BPOM memperkuat sistem pencegahan keracunan.

1. BPOM siapkan 21 program khusus pencegahan keracunan MBG.

Badan Pengawas Obat dan Makanan menyiapkan 21 program pengawasan MBG untuk 2027. Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan program tersebut terkait rencana anggaran pengawasan MBG sekitar Rp509 miliar, yang masih menunggu penetapan definitif.

Bagi SPPG, perkembangan ini perlu diantisipasi dengan memperkuat bukti objektif: hasil uji air, hasil uji makanan, swab lingkungan, retained sample, monitoring suhu, kalibrasi termometer, supplier approval dan traceability per batch. Dengan tren pengawasan saat ini, sekadar mempunyai SOP tidak cukup; SPPG perlu mampu menunjukkan rekaman bahwa SOP benar-benar dijalankan.

2. Kasusu Lombok Tengah: 352 siswa dilaporkan mengalami dugaan keracunan MBG.

Kasus di Central Lombok Regency terus menjadi perhatian. Laporan 13 September menyebut 352 siswa mengalami keluhan seperti pusing dan muntah setelah konsumsi MBG pada 11 September. Anggota Komisi IX DPR kemudian meminta evaluasi terhadap SDM pengelola dapur.

Dari perspektif HACCP, penggantian personel tidak otomatis merupakan root-cause corrective action. Investigasi harus memeriksa sedikitnya: supplier/lot -> receiving temperature -> storage -> preparation -> cooking -> suhu inti -> post-cooking handling -> portioning -> dispatch -> waktu tiba -> waktu konsumsi.

Jika masalah sebenarnya berasal dari kapasitas dapur, memasak terlalu dini atau time-temperature abuse, mengganti operator tanpa memperbaiki sistem berisiko membuat kejadian berulang.

3. Kasus Tojo Una-Una: 23 siswa mengalami gangguan kesehatan setelah MBG.

Perkembangan baru juga muncul di Tojo Una-Una Regency. Laporan 13 September menyebut 23 siswa SDN Bahari mengalami gangguan kesehatan, termasuk mual dan sakit perut, setelah konsumsi MBG; dinas kesehatan melakukan pendataan, pemeriksaan dan pengumpulan keterangan.

Karena penyebab belum terkonfirmasi laboratorium, kasus ini sebaiknya tetap disebut dugaan insiden terkait MBG, bukan langsung dinyatakan sebagai keracunan akibat bakteri tertentu.

Untuk prosedur SPPG, kejadian semacam ini menunjukkan pentingnya incident-response kit: retained sample setiap komponen menu, nomor batch bahan baku, daftar supplier, rekaman suhu, daftar sekolah/rute, jam dispatch, jam penerimaan, jumlah porsi serta identitas batch produksi. Tanpa data tersebut, root-cause analysis mudah berubah menjadi dugaan.

4. Kasus Banggai Kepulauan: 51 orang mendapat penanganan medis setelah konsumsi MBG.

Kasus lain dilaporkan dari Banggai Islands Regency. Sebanyak 51 orang dilaporkan mendapat penanganan di RSUD Trikora Salakan setelah mengalami keluhan kesehatan yang diduga muncul setelah konsumsi MBG pada 11 September. Penyebab keluhan belum dipastikan.

Munculnya insiden di beberapa wilayah dalam periode berdekatan memperkuat alasan untuk melakukan horizontal CAPA. Artinya, bila satu SPPG mempunyai masalah, tindakan tidak berhenti pada dapur tersebut. SPPG lain dengan desain, supplier, menu, SOP, kapasitas, equipment atau pola distribusi yang sama perlu diperiksa sebelum terjadi insiden.

Dalam ISO 22000, pendekatan ini relevan dengan evaluasi ketidaksesuaian, tindakan korektif, verifikasi, serta pembaruan informasi yang mendasari hazard control system.

5. Penutupan SPPG tanpa SLHS mulai terlihat pada tingkat daerah.

Kebijakan nasional Badan Gizi Nasional terhadap SLHS mulai terlihat nyata di daerah. Di Tangerang Regency, 62 SPPG dihentikan sementara karena belum memiliki atau belum mengurus SLHS.

Ini merupakan tindak lanjut dari keputusan BGN pada 7 September 2026 yang menutup sementara 1.999 SPPG karena belum mendaftarkan SLHS. Data resmi BGN menyebut hasil koordinasi dengan Kemenkes saat itu menemukan 1.999 dari 27.022 SPPG hasil penyisiran belum melakukan pendaftaran SLHS.

Fokus Konsultan SPPG hari ini

Dari perkembangan 24 jam terakhir, saya akan menaikkan prioritas audit pada empat kontrol

  • Validasi kapasitas dapur
  • Cooking-to-consumption time
  • Efektivitas PRP/SLHS
  • Kemampuan traceability

Khusus setelah pembahasan kita mengenai Bacillus cereus pada nasi, saya menyarankan setiap SPPG mulai merekam satu parameter yang sering hilang dari checklist:

Preparation Start -> Cooking Start -> Cooking Finish per Batch -> Core Temperature -> Portioning Start/Finish -> Dispatch -> School Arrival -> Actual Consumption.

Jangan hanya merekam “jam masak 05.00”. Data tersebut tidak dapat membuktikan keamanan makanan. Yang menentukan adalah kapan masing-masing batch selesai matang dan berapa lama berada dalam rantai holding–portioning–distribution sebelum dikonsumsi.

Fokus: Program MBG





Konsultan SPPG